BATARA INDRA

Kamis, 03 Juni 2010 19.22 Diposting oleh linda satwika 0 komentar

Dalam ajaran agama Hindu, Indra (Sanskerta: इन्द्र atau इंद्र, Indra) adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Menurut mitologi Hindu, Beliau adalah dewa yang memimpin delapan Wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam.

Dewa Indra terkenal di kalangan umat Hindu dan sering disebut dalam susastra Hindu, seperti kitab-kitab Purana (mitologi) dan Itihasa (wiracarita). Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan memimpin para dewa menghadapi kaum raksasa. Indra juga disebut dewa perang, karena Beliau dikenal sebagai dewa yang menaklukkan tiga benteng musuhnya (Tripuramtaka). Ia memiliki senjata yang disebut Bajra, yang diciptakan oleh Wiswakarma, dengan bahan tulang Resi Dadici. Kendaraan Beliau adalah seekor gajah putih yang bernama Airawata. Istri Beliau Dewi Saci.

Dewa Indra muncul dalam kitab Mahabarata. Ia menjemput Yudistira bersama seekor anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.

Kadangkala peran dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam mitologi Yunani, dewa petir sekaligus raja para dewa. Dalam agama Buddha, beliau disamakan dengan Sakra.


Nama lain

Batara Indra dalam pewayangan

Dewa Indra memiliki nama lain sesuai dengan karakter dan berbagai pengalamannya. Nama lain tersebut juga mengandung suatu pujian. Nama lain Dewa Indra yakni:

  • Sakra (yang berkuasa)
  • Swargapati (raja surga)
  • Diwapati (raja para Dewa)
  • Meghawahana (yang mengendarai awan)
  • Wasawa (pemimpin para Wasu)

Dalam Weda

Indra adalah dewa pemimpin dalam Regweda (disamping Agni). Ia senang meminum Soma, dan mitos yang penting dalam Weda adalah kisah kepahlawanannya dalam menaklukkan Wretra, membebaskan sungai-sungai, dan menghancurkan Bala, sebuah pagar batu dimana Panis memenjarakan sapi-sapi dan Usas (dewa fajar). Ia adalah dewa perang, yang telah menghancurkan benteng milik Dasyu, dan dipuja oleh kedua belah pihak dalam Pertempuran Sepuluh Raja.

Regweda sering menyebutnya Śakra: yang perkasa. Saat zaman Weda, para dewa dianggap berjumlah 33 dan Indra adalah pemimpinnya (secara ringkas Brihadaranyaka Upanishad menjabarkan bahwa para dewa terdiri dari delapan Wasu, sebelas Rudra, dua belas Aditya, Indra, dan Prajapati). Sebagai pemimpin para Wasu, Indra juga dijuluki Wasawa.

Pada zaman Wedanta, Indra menjadi patokan untuk segala hal yang bersifat penguasa sehingga seorang raja bisa disebut "Manawèndra" (Manawa Indra, pemimpin manusia) dan Rama, tokoh utama wiracarita Ramayana, disebut "Raghawèndra" (Raghawa Indra, Indra dari klan Raghu). Dengan demikian Indra yang asli juga disebut Déwèndra (Dewa Indra, pemimpin para dewa).

Di luar agama Hindu

Patung Indra.

Dalam sastra Buddhisme dan Jainisme, Indra biasanya disebut Śakra, pemimpin surga Trāyastriṃśa.

Dalam Jainisme, Indra juga dikenal sebagai "Saudharmendra", dan senantiasa melayani Tirthankar. Indra biasanya sering muncul dalam cerita yang berhubungan dengan Mahavira, dimana Indra sendiri memuliakan lima peristiwa penting dalam kehidupan Tirthankar, seperti Chavan kalyanak, Janma kalyanak, Diskha kalyanak, Kevalgyan kalyanak, dan Nirvan kalyanak.

Di Cina, Korea, dan Jepang, namanya ditulis 帝釈天, (bahasa Jepang: "Tai-shaku-ten"). Di Jepang, Indra selalu tampak berhadapan dengan Brahma (梵天, bahasa Jepang: "Bonten") dalam kesenian Buddha. Mereka dihormati sebagai para pelindung Buddha (釈迦, bahasa Jepang: "Shaka"). Meskipun Indra sering ditampilkan seperti seorang bodhisattva di wilayah Asia Timur, khususnya dalam kostum dinasti Tang, penggambarannya juga memasukkan aspek keperkasaan, seperti misalnya memegang petir di atas gajah tunggangannya.

Mengulas Makna Tindak Tutur Masyarakat Jawa

Rabu, 02 Juni 2010 23.21 Diposting oleh linda satwika 0 komentar
Manusia adalah makhluk budaya, dan penuh simbol-simbol. Dapat dikatakan bahwa budaya manusia diwarnai simbolisme, yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola, serta mendasarkan diri pada simbol-simbol. Sepanjang sejarah budaya manusia, simbolisme telah mewarnai tindakan-tindakan manusia baik tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuan maupun religinya. Dengan perkataan lain dunia kebudayaan adalah dunia penuh simbol. Manusia berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis. Ungkapan yang simbolis ini merupakan ciri khas manusia (Heru Satoto, 1987).

Simbolisme menonjol peranannya dalam tradisi atau adat istiadat Orang Jawa. Simbolisme terdapat dalam setiap karya budaya nenek moyang, serta berperan sebagai warisan budaya turun-temurun, dari generasi tua ke generasi muda.

Orang Jawa adalah sebutan bagi orang yang tinggal di Jawadwipa atau dipulau Jawa pada dulu kala.Pada saat ini yang dinamakan orang Jawa adalah penduduk yang menghuni di pulau Jawa bagian tengah dan timur yang disebut suku bangsa Jawa dan anak keturunannya .Pada umumnya mereka masih melestarikan budaya, adat istiadat warisan nenek moyangnya dan berbicara bahasa Jawa. Banyak sekali aturan-aturan yg tak boleh kita langgar, aik sgb anak, wanita, atau istri.

nah, masih ingatkan larangan-larangan ibu atau orang-orang tua tentang hal-hal yg tak boleh dilakukan? misalnya, kita tdk boleh mkn di depan pintu krn nti jauh jodohnya alias gak laku. Kl dipikir dr segi ilmiah memang tak ada hubungannya antara "makan di dpn pintu" dgn "gak laku nikah", namun dari segi budaya kedua hal tersebut sangat berkaitan erat. Coba kita pikirkan kl kita suka makan di depan pintu, trus ada orang yg melihat, maka org trsebut pasti berpikir kita tak punya sopan santun, makan kok di depan pintu. Nah, dari penilaian "tidak sopan" tadi membuat org yg melihat some one yg makan di depan pintu tandanya tak punya sopan santun, jadi tdk pantas untuk dijadikan MANTU.
Sebenarnya dari ungkapan "tidak boleh mkn di depan pintu" td mengajarkan kita untuk menjaga tingkah laku dan kesopanan kita. Kita tidak boleh berlaku seenaknya dlm brmasyarakat.

Masih ingat juga ungkapan "lek mari metu, kudu wesoh cek gak digandoli setan" (kl selesai jalan-jalan, harus cuci kaki terlebih dahulu biar tidak diikuti setan.
Dari ungkapan di atas skali lg kl orang yang "modern" tidak percaya akan hal-hal seperti itu,namun bagi orang jawa ungkapan tadi menyiratkan suatu ajaran kebersihan, ya meskipun masih dikait-kaitkan dgn simbol "Makhluk Halus". Sebenarnya orang Jawa itu pandai, namun mereka tidak bisa menjelaskan secara ilmiah tentang hal-hal yang terjadi dlm kehidupan mereka. Kl kita pikir memang selesai jalan-jalan kita memang harus cuci kaki sebelum masuk rumah, karena ketika kita keluar banyak sekali kuman-kuman dan debu yg melekat pada tubuh kita. Ungkapan ini biasanya diujarkan oleh orang tua kepada anaknya yang masih kecil, dengan harapan mereka akan takut dan patuh kepada orang tua mereka. ungkapan tadi dianggap bisa sebagai "Remote" yg mengendalikan perilku anak mereka.

Begitu banyak makna yang tersimpan dalam petuah-petuah orang tua (khususnya Jawa) yang dijadikan pedoman perilaku dari kita lahir samapi kita meninggal kelak.
(LINDA)

Keindahan Pernikahan Budaya Jawa

06.14 Diposting oleh linda satwika 0 komentar



Budaya tanah Jawa masih menyimpan sejuta keindahan dan keagungan yang tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Hal ini bisa dilihat dalam upacara pernikahan yang penuh makna dan unik. Beragam tradisi dan tata cara pernikahan menjadi bagian dari adat masing-masing wilayah. Berikut prosesi pernikahan adat Jawa Solo yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya, yang kami paparkan dalam 5 babak.
BABAK I (PEMBICARAAN)

Tahapan ini intinya mencakup tahap pembicaraan pertama sampai tingkat melamar.

a. Congkog
Seorang perwakilan/duta diutus untuk menanyakan dan mencari informasi tentang kondisi dan situasi calon besan yang putrinya akan dilamar. Tugas duta yang utama ialah menanyakan status calon mempelai perempuan, masih sendiri atau sudah ada pihak yang mengikat.

b. Salar
Jawaban pada acara Congkog akan ditanyakan pada acara Salar yang dilaksanakan oleh seorang duta, baik oleh duta yang pertama atau orang lain.

c. Nontoni
Setelah lampu hijau diberikan oleh calon besan kepada calon mempelai pria, maka orang tua, keluarga besar beserta calon mempelai pria datang berkunjung ke rumah calon mempelai wanita untuk saling "dipertontonkan". Dalam kesempatan ini orang tua dapat membaca kepribadian, bentuk fisik, raut muka, gerak-gerik dan hal lainnya dari si calon menantu.

d. Nglamar
Utusan dari orangtua calon mempelai pria datang melamar pada hari yang telah ditetapkan. Biasanya sekaligus menentukan waktu hari pernikahan dan kapan dilakukan rangkaian upacara pernikahan.

BABAK II (TAHAP KESAKSIAN)

Setelah melalui tahapan pembicaraan, dilaksanakanlah peneguhan pembicaraan yang disaksikan pihak ketiga, seperti kerabat, tetangga, atau sesepuh.
a. Srah-srahan
Penyerahan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara hingga acara selesai dengan barang-barang yang masing-masing mempunyai arti dan makna mendalam di luar dari materinya sendiri, yaitu berupa cincin, seperangkat busana wanita, perhiasan, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih, dan uang.

b. Peningsetan
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan ditandai dengan tukar cincin oleh kedua calon mempelai.

c. Asok Tukon
Penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan keluarga pengantin wanita.

d. Paseksen
Yaitu proses permohonan doa restu dan yang menjadi saksi acara ini adalah mereka yang hadir. Selain itu, juga ada pihak yang ditunjuk menjadi saksi secara khusus yang mendapat ucapan terima kasih yang dinamakan Tembaga Miring (berupa uang dari pihak calon besan).

e. Gethok Dina
Penentuan hari ijab kabul dan resepsi. Biasanya melibatkan seseorang yang ahli dalam memperhitungkan hari, tanggal, dan bulan yang baik atau kesepakatan dari kedua belah pihak saja.

BABAK III (TAHAP SIAGA)

Pembentukan panitia dan pelaksana kegiatan yang melibatkan para sesepuh atau sanak saudara.

a. Sedhahan
Mencakup pembuatan hingga pembagian surat undangan.

b. Kumbakarnan
Pertemuan untuk membentuk panitia hajatan dengan mengundang sanak saudara, keluarga, tetangga, dan kenalan. Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.

c. Jenggolan atau Jonggolan
Calon mempelai melapor ke KUA. Tata cara ini sering disebut tandhakan atau tandhan, artinya memberitahukan dan melaporkan pada pihak kantor pencatatan sipil bahwa akan ada hajatan pernikahan yang dilanjutkan dengan pembekalan pernikahan.

BABAK IV (TAHAPAN RANGKAIAN UPACARA)

a. Pasang Tratag dan Tarub
Merupakan tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu pada masyarakat. Tarub berarti hiasan dari janur kuning atau daun kelapa muda yang disuwir-suwir (disobek-sobek) dan dipasang di sisi tratag serta ditempelkan pada pintu gerbang tempat resepsi agar terlihat meriah. Bila ingin dilengkapi, boleh dilanjutkan dengan uba rambe selamatan dengan sajian makanan nasi uduk, nasi asahan, nasi golong, kolak ketan, dan apem.

b. Kembar Mayang
Sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasa menghiasi panti/ asasana wiwara yang digunakan dalam acara panebusing kembar mayang dan upacara panggih. Bila acara sudah selesai, kembar mayang akan dibuang di perempatan jalan, sungai, atau laut agar kedua mempelai selalu ingat asal muasalnya.

c. Pasang Tuwuhan (Pasren)
Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan yang melambangkan isi alam semesta dan memiliki makna tersendiri dalam budaya Jawa dipasang di pintu masuk tempat duduk pengantin atau tempat pernikahan.

d. Siraman
Upacara Siraman mengandung arti memandikan calon pengantin yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir dan batin. Tahapan-tahapannya antara lain; calon mempelai mohon doa restu kedua orangtuanya, lalu mereka (calon mempelai pria dan wanita) duduk di tikar pandan, kemudian disiram oleh pinisepuh, orangtua, dan orang lain yang ditunjuk. Terakhir, calon mempelai disiram air kendi oleh bapak ibunya sambil berkata "Niat Ingsun ora mecah kendi nanging mecah pamore anakku wadon" dan kendi kosongnya dipecahkan ke lantai.

e. Adol Dhawet (Jual dawet)
Usai siraman, dilakukan acara jual dawet. Penjualnya adalah ibu calon pengantin wanita yang dipayungi oleh ayah calon pengantin wanita. Pembelinya yaitu para tamu yang hadir, yang menggunakan pecahan genting sebagai uang.

f. Paes
Upacara menghilangkan rambut halus yang tumbuh di sekitar dahi agar tampak bersih dan wajahnya bercahaya, kemudian merias wajah calon pengantin. Paes sendiri menyimbolkan harapan kedudukan yang luhur diapit lambing bapak ibu dan keturunan.

g. Midodareni
Upacara Midodaren berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik Dewi Widodari. Orangtua pengantin perempuan akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai besok ia akan menjadi tanggung jawab sang suami.

h. Selametan
Berdoa bersama untuk memohon berkah keselamatan menyongsong pelaksanaan ijab kabul dan akad nikah.

i. Nyantri atau Nyatrik
Upacara penyerahan dan penerimaan dengan ditandai datangnya calon pengantin pria berserta pengiringnya. Dalam acara ini calon pengantin pria mohon diijabkan. Atau kalau acara ijab diadakan besok, kesempatan ini dimanfaatkan sebagai pertemuan perkenalan dengan sanak saudara terdekat di tempat mempelai pria. Bila ada kakak perempuan yang dilangkahi, acara penting lainnya yaitu pemberian restu dan hadiah yang disesuaikan kemampuan mempelai dalam Plangkahan.

BABAK V (PUNCAK ACARA)

Puncak dari rangkaian acara dan merupakan inti acara.

a. Upacara Ijab
Sebagai prosesi pertama pada puncak acara ini adalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri.

b. Upacara Panggih
Setelah upacara ijab selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:

Liron kembar mayang atau saling menukar kembang mayang dengan makna dan tujuan bersatunya cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan.

Gantal atau lempar sirih dengan harapan semoga semua godaan hilang terkena lemparan itu.

Ngidak endhog atau pengantin pria menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.

• Minum air degan (air buah kelapa) yang menjadi lambang air suci, air hidup, air mani dan dilanjutkan dengan di-kepyok bunga warna-warni dengan harapan keluarga mereka dapat berkembang segala-segalanya dan bahagia lahir batin.

• Masuk ke pasangan bermakna pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.

Sindur yaitu menyampirkan kain (sindur) ke pundak pengantin dan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup.
Setelah upacara panggih, kedua mempelai diantar duduk di sasana riengga. Setelah itu, acara pun dilanjutkan.

Timbangan atau kedua pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin wanita sebagai simbol sang ayah mengukur keseimbangan masing-masing pengantin.

Kacar-kucur dijalankan dengan cara pengantin pria mengucurkan penghasilan kepada pengantin perempuan berupa uang receh beserta kelengkapannya. Simbol bahwa kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga.

Dulangan atau kedua pengantin saling menyuapi. Mengandung kiasan laku perpaduan kasih pasangan laki-laki dan perempuan (simbol seksual). Ada juga yang memaknai lain, yaitu tutur adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng.
c. Upacara Babak Kawah
Upacara ini khusus untuk keluarga yang baru pertama kali hajatan mantu putri sulung. Ditandai dengan membagi harta benda seperti uang receh, beras kuning, umbi-umbian dan lain-lain.

d. Tumplek Punjen

Numplak artinya menumpahkan, punjen artinya berbeda beban di atas bahu. Makna dari Tumplek Punjen yaitu lepas sudah semua darma orangtua kepada anak. Tata cara ini dilaksanakan bagi orang yang tidak akan bermenantu lagi atau semua anaknya sudah menikah.

e. Sungkeman

sebagai ungkapan bakti kepada orang tua serta mohon doa restu.

f. Kirab
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saat pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana.

Filosofi Dalam Perkawinan Adat Jawa

06.11 Diposting oleh linda satwika 0 komentar

Banyaknya kasus perceraian akhir-akhir ini, terutama di lingkungan artis menimbulkan pertanyaan, mengapa begitu gampang orang bercerai? Mengapa sebuah mahligai rumah tangga begitu rapuh? Padahal banyak rumah tangga itu dibangun dengan pesta miliaran rupiah. Bahkan ada di antaranya yang memilih melangsungkan akad nikah di hadapan Ka’bah, di Kota Suci Makah Al Muqarromah, disaksikan dan didoakan oleh Kyai ternama.

Memang menjalani kehidupan rumah tangga itu tidak gampang, karena tidak ada sekolah yang mengajarkan tentang hal itu. Tapi sayang sekarang telah jarang ada yang menyadarinya, bahwa harus memiliki persiapan khusus untuk memasuki mahligai perkawinan. Lihat saja, banyak calon penganten hanya sibuk konsultasi mengenai bentuk pesta dan soal pakaian saat pesta. Jarang sekali ada yang melakukan konsultasi tentang seluk beluk perkawinan yang harus mereka jalani kelak.


Ironisnya lagi, begitu menurut Drs. H. Hari Sutopo (60 tahun), Ketua Paguyuban Pametri Budaya Jawi, sekarang banyak orang tua tidak mengerti makna perkawinan. Misalnya, meski dia menggunakan tatacara perkawinan adat jawa, tapi dia tidak mengerti makna perkawinan menurut filsafat Jawa Misalnya mengapa pakai janur, kok tidak dipakai plastik saja? Sering karena tidak mengerti, orang mengambil artinya dari sudut bahasa, “ja Annur”, sinar surga. Padahal janur itu bukan tuntunan agama Islam.

Sebenarnya janur itu kan diambil dari pucuk pohon kelapa. Nah, kelapa itu dari bahasa Sansekarta, kelape adalah suatu titik tertinggi yang mengomandoi sejumlah titik di bawahnya. Itu adalah perwujudan daripada Tuhan. Jadi maksud orang tua memasang janur itu untuk mengingatkan kepada anaknya, agar senantiasa mengingat Tuhan.

Kenapa kok memasang tebu? Orang tidak mengerti akan mengartikannya sebagai “anteping kalbu”, berat hatiya, yaitu bekerja keras. Memang bekerja keras itu bagus. Tapi bekerja terus menerus? Ini menyebabkan banyak anak pejabat bubrah. Saking getol bapaknya bekerja sampai anaknya lepas kendali. Jadi bukan itu maksud dari pemasangan tebu tersebut.

Tebu untuk manten itu adalah tebu item, namanya tebu Arjuna. Sesungguhnya dalam tebu itu ada kembang yang namanya gelagah. Bentuk gelagah ini sama dengan panahnya Arjuna, pemberian Batara Indra. Sifat panah pasopati ini hanya diperuntukkan bagi tujuan baik. Misalnya hanya untuk perang demi bangsa dan negara. Panah ini bisa berubah jadi panah api. Jadi pada waktu nikah itu, orang tua memasang tebu untuk memberi pusaka kepada sang anak, yaitu lembaga perkawinan. Kalau anak itu menghayati masalah itu, maka angel (sudah –red) orang cerai.

Kenapa pemasangan kelapa gading, bukan kelapa ijo atau kelapa hibrida? Banyak orang tidak tahu, sehingga mengartikannya dari bahasa Jawa dari kelapa gading, yaitu cengkir yang diartikan kengcangnya pikir. Nah, kalau kengcangnya pikir kerjanya main saja bagaimana? Sebenarnya arti kelapa gading itu diambil dari arti gadingnya. Kalau kita melihat gajah besar tidak ada gadingnya rasanya bingung. Mau dikatakan sebagai anak gajah, dia sudah besar, tapi mau disebut gajah kok tidak ada gadingnya. Artinya, orang tua memasang kelapa gading untuk mengingatkan kepada anak, “kamu itu saya lahirkan yang kedua. Kamu sudah pantas disebut sebagai manusia. Lepas dari ikatan saya tapi asal usulmu dari anak”.

Kenapa sekarang salon sudah maju, tapi orang nikah tetap dikasih item dan konde. Sesungguhnya, sang wanita dibentuk sebagai matahari. Si cunduk mentul itu solarnya, sinarnya, auranya. Pada detik manten laki nginjak telor, sang matahari ini turun ke bawah, manten perempuan membersihkan kaki manten laki dan sungkem. Pada detik inilah nilai tertinggi seorang laki-laki. Sebab matahari yang telat semenit saja kita sudah kacau, sekarang mau turun. (Abdurrahman)

Kalau pengertian ini diberikan kepada penganten sebelum dinikahkan, insya Alllah langgeng. Sedangkan pisang raja itu doa biar tinggi derajatnya. Padi, biar makmur hidupnya. Alang-laang, biar dijauhi dari halangan.

Bahaya Narkoba Diusulkan Masuk Kurikulum

06.05 Diposting oleh linda satwika 0 komentar

Kepolisian Daerah Metro Jaya mengusulkan materi bahaya narkoba masuk pada kurikulum mata pelajaran tingkat sekolah dasar hingga universitas. "Tujuannya untuk memperkenalkan bahaya narkoba sejak usia dini," kata Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Pol. Anjan P. Putra di Jakarta, Rabu (2/6).

Anjan menuturkan, Polda Metro Jaya akan menandatangani nota kesepahaman dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta guna mencantumkan materi bahaya narkoba pada kurikulum, Jumat lusa. Pihak kepolisian dan Dindik DKI Jakarta akan menyusun modul dan melakukan penataran terhadap guru se-DKI Jakarta agar memahami materinya.

Rencana penyusunan modul dan penataran terhadap guru se-DKI Jakarta selama satu bulan setelah penandatanganan nota kesepahaman. Selain menyusun modul, polisi juga mempersiapkan sekitar 20 instruktur dari Polda Metro Jaya, Badan Narkotika Nasional, kedokteran dan psikolog untuk memberikan pelatihan.

`Si Daun Wangi` yang Berkhasiat

05.49 Diposting oleh linda satwika 0 komentar

Teh dapat dilukiskan sebagai daun wangi dan bertangkai. Daun ini adalah penghasil minuman terkenal di seluruh dunia. Minuman teh paling banyak kedua di konsumsi manusia setelah air putih. Menurut data dari perkebunan teh pada 2007, sekitar 3,8 juta ton teh kering di proses di seluruh penjuru Bumi.

Teh punya sejarah. Sejarah pemanfaatan teh berasal dari Negeri Tirai Bambu Cina. Budaya minum teh dikenal sejak 3000 tahun sebelum Masehi pada zaman Kaisar Shen Nung. Dulunya, teh hanya dikonsumsi untuk obat. Namun, sejak abad ke-11 teh mulai dijadikan minuman kesegaran.

Sementara itu, teh yang punya nama lain "Camelia Sinensis" mulai diperkenalkan di Jepang antara 1192-1333. Saat itu, ritual minum teh dilakukan oleh pengikut ritual zen.

Bagaimana dengan Indonesia? Negara yang masuk ke dalam 10 besar produsen dan pengekport teh terbesar di dunia. Pada masa penjajahan Belanda, teh dibudidayakan di Jawa Barat. Bibit-bibit teh dibawa dari Cina.

Perkebunan teh Belanda telah turun temurun berada di Jabar. Seperti pabrik teh di Gambung. Tempat ini adalah salah satu penghasil teh terkemuka di era Belanda. Saat itu, teknologi pengolahan dan penggilingan teh masih bersifat sederhana. Varian teh yang dikonsumsi adalah teh hitam. Pengolahannya sederhana, menggunakan tenaga manusia, dan kebanyakan dari mereka bekerja paksa.

Selain perkebunan di Gambung yang namanya tenar, ada pula Perkebunan Teh Malabar yang masih berlokasi di Jabar. Perkebunan ini memiliki lahan terluas dan penghasil teh terbanyak di Indonesia. Malabar memiliki luas areal 2022 hektare dan mampu memproduksi teh sekitar 60.000 kilogram per hari. Perkebunan ini mempunyai setidaknya 1000 tenaga pemetik teh.

Sekitar 25 pemetik menghabiskan pucuk teh di areal 2 hektare. Mereka hanya mengambil pucuk yang sudah tumbuh. Setelah dipetik, tanaman ini mampu menghasilkan pucuk kembali setelah 10-12 hari.

Jenis teh dibagi berdasarkan proses pengolahannya. Ada teh hijau dan ada pula teh hitam atau pun teh oolong. Bibit teh yang asli berasal dari Jepang. Sementara penyemaian teh dipisahkan berdasarkan jenis terbaiknya. Bibit disungkup selama tiga bulan agar tidak terkena jamur. Bibit ini kemudian disemai selama setahun. Tak jarang bibit tanaman teh gagal tumbuh karena terserang jamur.

Di pabrik teh Malabar, puluhan ton daun teh basah diproses. Pertama, daun teh dimasukkan dalam alat pelayuan untuk dikeringkan selama 14 jam agar kandungan air didaunnya berkurang hingga tersisa sekitar 2-3 persen. Proses ini dilakukan untuk memudahkan mengeluarkan senyawa kimia yang berada di dalam teh.

Agar zat kimia keluar, daun teh yang telah kering digiling. Penggilingan secara kimiawi dilakukan agar senyawa Polifenol keluar dari daun. Penggilingan berlangsung sekitar 1-2 jam. Proses ini mengakibatkan benturan dan dinding sel daun teh menjadi rusak. Alhasil, cairan sel akan keluar.

Teh yang sudah melewati penggilingan boleh dibilang sebagai teh yang bermutu. Selanjutnya, teh dicacah. Dauh teh yang besar dicacah hingga menjadi serbuk. Hasil yang baik idealnya bakal menjadi butiran halus yang siap menjadi penghasil teh.

Setelah proses penggilingan selesai, hasil serbuk teh dikeringkan karena masih mengandung 3-4 persen air. Dari pengeringan selama 20 menit ini, telah dapat dihasilkan teh hitam. Teh hitam masih melalui satu proses pengayakan untuk disortir berdasarkan mutu dan kualitas teh. Semakin ringan, semakin baik mutu teh yang dihasilkan.

Setelah melalui proses panjang, teh pun tetap melalui uji kelayakan rasa dan aroma. Uji rasa ini dilakukan beberapa kali hingga 50 cangkir per hari. Teh yang baik, berwarna tidak keruh dan cenderung merah bening. Mutu yang baik dapat bernilai sekitar Rp 2 juta per kilogram di pasar internasional.

Walau khasiat teh telah banyak diketahui, namun konsumsi teh di Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara di Eropa dan Jepang. Indonesia hanya mengkonsumsi sekitar 300 gram per kapita dibandingkan Inggris, sekitar 1 kilogram per kapita. Meskipun demikian, masyarakat sudah mengerti jika mengkonsumsi teh adalah salah satu cara murah untuk menjaga kesehatan

MATERI PIDATO

Senin, 31 Mei 2010 22.42 Diposting oleh linda satwika 0 komentar
ini adalah materi pidato untuk SMA kelas X. bagi siswa2 ibu silakan di download buat belajar.
http://www.4shared.com/file/X-zvfKZ8/PIDATO_PPT_KELAS_X.html